Kenali Skema Syariah

Perumahan Syariah itu Apa ?

Perumahan Syariah adalah produk Properti dengan penjualan berbasis Syariah dimana
Tidak melibatkan bank,
👉Tanpa Riba
👉Tanpa Bunga
👉Tanpa Denda Keterlambatan, jika terlambat bayar tidak ada denda, namun diberikan penangguhan waktu pembayaran.
👉Tanpa Sita, jika terjadi gagal bayar maka akan diberikan win-win solution dimana tidak merugikan kedua belah pihak. Rumah tidak akan disita, rumah yang gagal bayar akan dijual. Bisa dijual oleh pemilik ataupun meminta bantuan developer. Yang mana nilainya sama dengan nilai jual saat itu. Uang hasil penjualan akan digunakan untuk menutup hutang dan sisanya adalah hak pemilik rumah.
👉Tanpa Pendanaan Bank, jadi hanya ada dua pihak yang bertransaksi yaitu buyer dan developer.
👉Tanpa BI Checking
👉Tanpa Asuransi, karena Asuransi adalah gharar
👉Tanpa Akad Bathil, selama masa kredit, sertifikat rumah tidak dijadikan jaminan. Akadnya adalah jual beli/akad istishna untuk unit indent. Bukan sewa selama periode tenor cicilan.

Selain penjualan berbasis Syariah, beberapa produk developer Syariah InsyaAllah akan menghadirkan beberapa fasilitas Islami sebagai penunjang pembentukan generasi Qur’ani. Jadi bukan hanya transaksi nya saja yang berkah, tapi rumah tsb juga mendukung pembentukan generasi Islam terbaik, karena semua berawal dari rumah.

Tidak mau kan? Beli rumah tapi lingkungan nya tidak islami?😊

Untuk lebih jelasnya Sahabat bisa melihat skema berikut, dan bisa sahabat simpulkan.. mana yang terbaik dan sahabat pilih?

Apakah KPR KONVENSIONAL, KPR BANK SYARIAH, atau KPR SYARIAH?

Silakan sahabat pilih 😊🙏

CONTOH-CONTOH PRAKTEK RIBA DI SEKITAR KITA, yang terlihat wajar.. sehingga kita tidak sadar sudah terjerat praktek Ribawi :

1. Praktek Pinjaman Uang
Pak Budi meminjam uang kepada pak tono sebesar 10 Juta dan akan dilunasi selama 1 tahun sebesar 12 Juta yang akan dicicil 1 juta setiap bulannya.

Maka nilai 2 juta adalah riba karena adanya kelebihan dari hutang.

2. Praktek Jual Beli Segitiga (Leasing/KPR Bank)
Pak Dani ingin membeli motor ke sebuah showroom/dealer dengan harga 12 juta. Kemudian Pak Dani memberikan uang tanda jadi sebesar 2 Juta.

Setelah itu kekurangannya yaitu 10 juta dibayar oleh leasing/finance. Setelah itu Pak Rudi harus melunasi hutangnya sebesar 10 Juta menjadi 12 juta yang dicicil 1 juta/bulan dan jika ada kerterlambatan maka terkena denda.

Maka nilai 2 juta dan juga denda adalah riba karena sejatinya transaksi tersebut bukanlah jual beli tapi hutang piutang.

3. Praktek Pegadaian
Pak Tono meminjam uang kepada Pak Burhan senilai 3 Juta dan akan dilunasi selama 3 bulan dengan nilai 1 juta/bulan namun Pak Tono menggadaikan motornya kepada Pak Burhan dan Pak Burhan memanfaatkan motor tersebut.

Maka walaupun hutang 3 juta di lunasi 3 juta tidak ada Ribanya tetapi dalam transaski ini terdapat riba yaitu dalam pemanfaatan barang gadai yaitu motor.

4. Praktek Tukar Tambah Emas
Bu Ani pergi ke toko emas untuk tukar tambah cincin emas lamanya yaitu 3 gram dengan cincin emas baru 3 gram dengan adanya tambahan uang 300 ribu yang dibayarkan Bu Ani kepada toko emas.

Maka uang 300 ribu termasuk riba karena tukar menukar emas lama dan emas baru tidak sama takarannya yaitu kelebihan 300 ribu.

5. Praktek Jual Beli Emas Secara Online
Bu Dewi membeli kalung emas 10 gram seharga 5 Juta secara online dan kalung tersebut akan sampai dengan jasa pengiriman selama 3 hari.

Maka transaksi ini adalah riba karena adanya penundaan barang diterima oleh Bu Dewi.

6. Praktek Jual Beli Emas Secara Kredit
Bu Sinta membeli Gelang emas 4 gram seharga 2 Juta secara kredit selama 2 bulan kepada Bu Risma.

Maka transaksi ini adalah riba karena adanya penundaan pembayaran.

7. Praktek Kartu Kredit
Pak Maman mendapatkan fasilitas kartu kredit dari sebuah Bank dimana dalam pemakaian transaksi kartu kredit tersebut adanya bunga dan denda.

Maka transaksi ini termasuk riba karena adanya kelebihan dari hutang.

8. Praktek Memberi Hadiah dalam Hutang
Bu Sinta meminjam uang senilai 5 Juta kepada Bu Nita yang akan dicicil selama 5 Bulan. Dalam proses pelunasannya, Bu Sinta memberikan hadiah kepada Bu Nita.

Maka ini adalah riba karena adanya manfaat yang dihasilkan dari hutang.

Kecuali jika mereka berdua sebelumnya sudah terbiasa saling memberi hadiah sehingga pemberian hadiah tersebut bukan karena hutang piutang.

Semoga Allah SWT selalu melindungi kita dan keluarga kita dari jebakan riba, dan semoga Allah SWT membukakan pintu hati kita yang belum tersadar akan dosa Riba.. aamiin.

Dalil kebolehan adanya tambahan harga kredit dengan harga tunai

Dalil kebolehan adanya tambahan harga kredit dengan harga tunai, adalah riwayat ad-Daruquthni dari Abdullah bin ‘Amru bin
‘Ash sebagai berikut :

ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺃﻣﺮﻩ ﺃﻥ ﻳﺠﻬﺰ ﺟﻴﺸﺎ ﻗﺎﻝ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﻭﻟﻴﺲ ﻋﻨﺪﻧﺎ ﻇﻬﺮ ﻗﺎﻝ ﻓﺄﻣﺮﻩ ﺍﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ ﺃﻥ ﻳﺒﺘﺎﻉ ﻇﻬﺮﺍ ﺇﻟﻰ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﺼﺪﻕ ﻓﺎﺑﺘﺎﻉ ﻋﺒﺪ ﺍﻟﻠﻪ ﺑﻦ ﻋﻤﺮﻭ ﺍﻟﺒﻌﻴﺮ ﺑﺎﻟﺒﻌﻴﺮﻳﻦ ﻭﺑﺎﻷﺑﻌﺮﺓ ﺇﻟﻰ ﺧﺮﻭﺝ ﺍﻟﻤﺼﺪﻕ ﺑﺄﻣﺮ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭ ﺳﻠﻢ . ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ ﻭﺍﻟﺪﺍﺭﻗﻄﻨﻲ ﻭﺣﺴﻨﻪ ﺍﻷﻟﺒﺎﻧﻲ

“Rasulullah SAW memerintahkan Abdullah bin Amru bin Al ‘Ash untuk mempersiapkan suatu pasukan, sedangkan kita tidak memiliki unta tunggangan, maka Nabi SAW memerintahkanku untuk membeli hewan tunggangan dengan pembayaran ditunda hingga datang saatnya penarikan zakat. Maka ‘Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash pun seperintah Rasulullah SAW membeli satu ekor unta dengan harga dua ekor unta dan beberapa ekor unta yang akan dibayarkan ketika telah tiba saatnya penarikan zakat.” (HR Ad Daruquthni, Ahmad, Abu Dawud, dan sanadnya dihasankan oleh Al Albani).
Syu’aib al Arnauth menilai hadits ini hasan dengan seluruh sanadnya (lihat Masyru’ al Qonun al Buyu’ karya Syaikh Ziyad Ghazal yang terjemahannya diterbitkan oleh Penerbit Al Azhar Press dengan judul Buku Pintar Bisnis Syar’ie)

Syaikh Ziyad Ghazal juga menjelaskan, Wajh ad-dalalah (muatan makna) dalam hadits tersebut adalah bahwa Nabi SAW telah menambah harga barang tersebut karena faktor tenggat waktu. Ini tampak pada keberadaan hadits tersebut yang menyatakan tentang jual beli. Ucapan ‘Abdullah bin ‘Amru, “Nabi SAW pun memerintahkannya untuk membeli hewan tunggangan sampai (tenggat waktu) keluarnya orang yang membayar zakat.

Maka ‘Abdullah membeli satu ekor unta (kontan) dengan kompensasi dua ekor unta (kredit saat unta zakat datang). Tampak dalam jual beli tersebut adanya tambahan harga karena faktor tenggat waktu. Hal ini menunjukkan bahwa adanya kebolehan menambah harga karena faktor tenggat waktu pembayaran.

Pendapat yang Membolehkan

Mayoritas ulama fiqh menyatakan bolehnya menjual barang dengan harga lebih tinggi daripada biasanya dengan alasan kredit atau dengan alasan penundaan pembayaran.

Diriwayatkan dari Thawus, Hakam dan Hammad, mereka mengatakan hukumnya boleh seseorang mengatakan, “Saya menjual kepada kamu segini dengan kontan, dan segini dengan kredit”, lalu pembeli memilih salah satu diantaranya. Ali bin Abi Thalib ra. berkata,

“Barangsiapa memberikan tawaran dua sistem pembayaran, yakni kontan dan tertunda, maka tentukanlah salah satunya sebelum transaksi.”

Ibnu Abbas ra. berkata :

ﻗﺎﻝ ﺍﺑﻦ ﻋﺒﺎﺱ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ : ﻻ ﺑﺄﺱ ﺃﻥ ﻳﻘﻮﻝ : ﺍﻟﺴﻠﻌﺔ ﺑﻨﻘﺪ ﺑﻜﺬﺍ ﻭﺑﻨﺴﻴﺌﺔ ﺑﻜﺬﺍ، ﻭﻟﻜﻦ ﻻ ﻳﻔﺘﺮﻗﺎﻥ ﺇﻻ ﻋﻦ ﺭﺿﺎ

“Seseorang boleh menjual barangnya dengan mengatakan, Barang ini harga tunainya sekian dan tidak tunainya sekian, akan tetapi tidak boleh Penjual dan Pembeli berpisah melainkan mereka telah saling ridha atas salah satu harga.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah)

Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani berkata :
Diperbolehkan bagi penjual untuk menjual barangnya dengan dua pembayaran yang berbeda, yaitu kontan atau kredit. Jika seseorang berkata pada temannya, “Saya menjual barang ini 50 secara kontan, 60 secara kredit.”
Lalu temannya itu berkata, “Saya beli secara kredit 60.” Atau dia berkata, “Saya beli dengan kontan 50.”, maka sahlah jual beli itu. Begitu pula jika dia berkata, “Saya jual barang ini 60 secara kredit, selisih 10 dari harga aslinya jika secara kontan, karena pembayarannya di belakang”, dan pembeli mengatakan setuju, maka sahlah jual beli itu. (Syakhsiyah Islamiyah juz II)

Syaikh Abdul Azis bin Baz berkata :
“Jual beli kredit hukumnya boleh, dengan syarat bahwa lamanya masa angsuran serta jumlah angsuran diketahui dengan jelas saat aqad, sekalipun jual-beli kredit biasanya lebih mahal daripada jual-beli tunai.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz)

Berikut penjelasan singkat tentang properti syariah dan konvensional.